Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juli 2012

Telaga Wahyu

0 komentar
MAGETAN - Telaga Wahyu adalah sebuah telaga kecil yang terletak di Kabupaten Magetan tepatnya Kecamatan Plaosan. Dari Kota Magetan ke arah barat sekitar 15 Km, dan sekitar 2 Km sebelum Telaga Sarangan. Telaga dengan luas sekitar 10 Ha dan kedalaman 20 m ini dihuni oleh banyak sekali jenis ikan sehingga sangat tepat untuk menyalurkan hobi memancing. Didukung dengan pemandangan alam di sekitarnya sungguh sangat cocok untuk bersantai sejenak sebelum kita menuju telaga Sarangan.

Sekarang ini Telaga Wahyu sudah tersedia sepeda perahu yang bisa di sewe untuk mengelilingi dan bersantai di tengah telaga.

Bagi wisatawan yang ingin menuju Telaga Sarangan tidaklah rugi kalau beristirahat di telaga Wahyu ini untuk sekedar menikmati panorama alam atau sekedar mendinginkan mesin kendaraan setelah perjalanan jauh yang telah di tempuh.

Bagi yang hobi memancing, sangatlah cocok telaga Wahyu ini untuk menyalurkan kesenangannya.
apkan kepada para wisatawan dan calon wisatawan yang akan berkunjung ke Telaga Sarangan, silahkan mampir di Telaga Wahyu. Tempatnya nyaman, pemandangannya indah dan damai

Tetapi ada mitis di sini yang pernah aku dapat dari orang yang menyewakan kail di sini, bahwasannya kalau kita memancing di sini di sarankan untuk memakai mata kail yang jumlahnya ganjil. Karena apabila kita memasang mata kail jumlahnya genap, kita kemungkinan tidak akan pernah mendapatkan satupun ikan disini

Tapi semua itu tergantung yang memancing. Percaya atau tidaknya silahkan di coba :D

Monumen Soco

0 komentar
MAGETAN - Monumen Soco merupakan obyek wisata sejarah, sebuah monumen untuk memperingati tragedi berdarah dari keganasan pemberontakan PKI tahun 1948, yang ditandai dengan dibangunnya sebuah monumen berupa gerbong Kereta Api "Kertopati".
Korban yang tewas dalam peristiwa tersebut berjumlah 108 orang Jenazah korban keganasan PKI yang semula dikubur di sumur soco (sekarang monumen soco) sudah dipindah ke Taman Makam Pahlawan Kota Madiun., dan monumen Soco didirikan di atas sumur bekas pembuangan mayat korban-korban keganasan PKI tersebut. Sebelumnya Para Korban diangkut dan disiksa di dalam gerbong kertapati, sehingga gebong ini turut dimonumenkan.
Gerbong ini digunakan untuk mengangkut para korban keganasan PKI waktu itu dan terletak di desa Soco, Kecamatan Bendo, 15 Km arah timur dari pusat kota Kabupaten Magetan.
Monumen Soco diresmikan pada tahun 1989 oleh Ketua DPR RI M. Khasir Suhud, dan terdiri dari tiga bangunan utama, yaitu: Pendopo Loka Pitra Dharma, Gerbong Kerta Pati, dan Monumen/ Tetenger Soco.

Candi Sadon

0 komentar
MAGETAN - Candi Sadon terletak di Dusun Sadon, Desa Cepoko, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, tepatnya di sebelah jalan raya Magetan – Panekan. Walaupun nama candi tersebut adalah Candi Sadon, sesuai dengan nama dusun tempatnya berada, namun masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan nama Candi Reog, karena di reruntuhan Candi Sadon terdapat Kalamakara, arca raksasa Kala yang wajahnya mirip dengan kepala harimau pada 'dhadhakmerak'. Dhadhakmerak adalah topeng kepala harimau dengan hiasan susunan bulumerak disekelilingnya. Topeng ini merupakan atribut tokoh Singabarong dalam kesenian reog. Topeng dhadak merak yang berat keseluruhannya antara 30-40 kg tersebut biasanya dikenakan oleh penari Singabarong.
Tidak banyak informasi yang didapat mengenai Candi Reog, walaupun bangunan kuno ini telah ditetapkan sebagai situs suaka purbakala. Konon candi ini merupakan peninggalan Raja Airlangga, namun tidak diketahu kapan tepatnya dan untuk apa candi tersebut dibangun. Upaya pemugaran terhadap candi ini tampaknya belum pernah dilakukan, melihat kondisinya yang tinggal berupa kumpulan batu reruntuhan.
Pada tahun 1966, batu-batu reruntuhan candi tersebut diobrak-abrik dan dirusak oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Pada tahun 1969, dengan dipelopori oleh Sutaryono, yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Pembinaan kebudayaan Kabupaten Magetan, diadakan penataan kembali batu-batu reruntuhan Candi Sadon. Di antara reruntuhan peninggalan bersejarah tersebut terdapat arca Kalamakara, arca naga, batu bergambar binatang, bekas umpak, yoni, dan batu yang merupakan bagian sudut candi.

Di samping itu, di areal tersebut juga didapati tiga batu bertulis. Menurut penuturan Sarnu dari Dinas Sejarah dan Purbakala Kabupaten Magetan, tulisan di ketiga batu tersebut berbunyi A-PA PA-KA-LA, SA DA PA KRA-MA dan BA DA SRI-PA SA-BA DA-HA-LA. Dari tulisannya yang berbentuk balok atau kwadrat, diperkirakan bahwa batu bertulis tersebut berasal dari masa yang sama dengan prasasti yang diketemukan di Dusun Pledokan, Kediri, Jawa Timur.
Di sebelah timur kompleks candi Sadon, tepatnya di depan pemakaman desa, terdapat candi kecil bernama Candi Reca Sapi (arca sapi). Ukuran candi ini sangat kecil, jauh lebih kecil dibandingkan dengan kebanyakan candi yang terdapat di Jawa Timur. Candi yang diperkirakan merupakan candi Hindu tersebut ditemukan pertama kali pada tahun 1971 oleh Sudiro, penduduk setempat. Ketika diketemukan, candi tersebut tertutup rumpun bambu.

Candi Reca Sapi terdiri atas lima arca, yaitu Reca Kandang, Reca Pakan ( tempat makanan sapi), Reca Omben (tempat minum sapi), Reca Capil (arca topi gembala sapi) dan Reca Cagak (tonggak tempat menambatkan tali pengikat sapi). Kelima arca tersebut diyakini sebagai perwujudan sapi dan perlengkapan menggembala milik Dadhung Awuk atau Maesadanu, tokoh penggembala dalam legenda setempat.

Telaga Sarangan

0 komentar
MAGETAN - Telaga ini merupakan andalan wisata di Kabupaten Magetan. Telaga ini selalu menjadi favorit wisatawan yang datang ke Magetan. Telaga yang dikenal dengan sebutan Telaga Pasir ini memiliki tawaran yang menarik bagi anda para wisatawan, Anda dapat menikmati pemandangan alam yang masih murni dan udara yang sejuk. Telaga Pasir Sarangan yang mempunyai luas ± 30 Ha dengan kedalaman 28 meter dan udara yang sejuk dengan suhu 18-250 C. Telaga ini memiliki fasilitas yang dapat membuat liburan Anda tak terlupakan, yaitu dengan 42 hotel mulai kelas Melati 1 hingga Bintang 1 dan 18 pondok wisata, selain itu masyarakat sekitar juga menyediakan boat untuk keliling telaga dan kuda. Untuk santapan, menurut mantan Bupati Magetan Alm.Saleh Muljono, salah satu makanan yang digemari para wisatawan di areal lokasi adalah sate kelinci dan nasi pecel dengan sambal kacang khas Magetan.

Tips untuk Anda apabila berkunjung ke Telaga Saragan, jangan lupa untuk memilih hotel/ penginapan yang menyediakan air panas karena daerahnya yang dingin, Anda tentu tidak ingin mandi dengan air es bukan?

Obyek Wisata Budaya Petirtaan Dewi Sri

0 komentar
MAGETAN - Petirtaan Dewi Sri di Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan segera disahkan menjadi obyek Wisata Budaya. ODTW yang merupakan benda cagar budaya ini, sejak tahun 2007, sudah mengalami pemugaran sebagai upaya pelestarian terhadap benda cagar budaya sesuai UU No.5/1992. 

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Magetan, Suwaji, mengatakan situs Petirtaan Dewi Sri tengah dipugar sebagai upaya pelestarian terhadap benda cagar budaya sesuai Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya. Pemugaran itu dibiayai sepenuhnya oleh APBN dan dilakukan oleh UPT BP3 Trowulan, Mojokerto, secara multiyears. Pemugaran pertama kali dilakukan pada tahun 2007 yang dilakukan selama lima bulan.

"Saat ini Pemkab Magetan tengah bekerja sama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, untuk menjadikan situs Pertirtaan Dewi Sri sebagai obyek wisata budaya di Magetan," ujar Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Magetan, Suwaji, Sabtu (31/7/2010).

Pemugaran di tahun 2008 dilakukan tiga bulan, kemudian tahun 2009 selama dua bulan, dan tahun 2010 rencananya pemugaran akan dilakukan selama lima bulan yang dimulai sejak bulan Mei lalu hingga September mendatang. "Sarana pendukung tersebut akan dibangun setelah pemugaran situs Petirtaan Dewi Sri yang dilakukan oleh UPT BP3 Trowulan selesai dilakukan. Diharapkan, dengan dibukanya situs ini dapat meningkatkan potensi pariwisata budaya di Magetan," tutur Suwaji seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Berdasarkan inskripsi yang terdapat pada atap miniatur rumah, tertulis angka tahun 905 Saka (983 Masehi) dan 917 Saka(995 Masehi). Diperkirakan situs ini merupakan jejak peninggalan Kerajaan Mataram Hindu atau Mataram kuno.

Dari sisi arkeologis, bukti eksistensi sejarah di sekitar Pertirtaan Dewi Sri banyak didukung temuan lain berupa artefak. Antara lain, miniatur lumbung 7 buah, fragmen arca 7 buah, palung batu 1 buah, fragmen yoni 1 buah, sumur kuno 1 buah, fragmen kemuncak 1 buah dan lumbung baru 4 buah. 

Berdasarkan inskripsi yang terdapat pada atap miniatur lumbung,berupa angka tahun 906 Saka (984 Masehi) dan 917 Saka(995 Masehi). Sementara itu, pahatan sangkha (siput) bersayap pada atap miniatur lumbung merupakan tanda resmi pemerintahan Sindok pada abad 10. 

Situs Petirtaaan Dewi Sri memiliki bilik utama. Dimana dalam bilik utama tersebut terdapat arca seorang perempuan yang oleh warga sekitar dianggap sebagai Dewi Sri. Dalam mitologi masyarakat Hindu-Jawa, Dewi Sri dianggap sebagai tokoh perempuan yang memberikan sumber kehidupan.

Followers

Archive

 

Jurnal Mageti. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com